Translate

Jumat, 18 Januari 2013

Taring babi

SEBELAS TAHUN MARJINAL

Pada bulan Desember 2007 yang lalu, Marjinal bermain musik pada gelaran pameran bertajuk Ibumi – ibu bumi, di sculpture park Garuda Wisnu Kencana, Jimbaran, Bali. Pameran yang melibatkan seniman dari Bali, Yogyakarta dan Bandung itu adalah rangkaian gelaran kesenian yang bertepatan dengan Konferensi Perubahan Iklim (Climate Change Conference),yang melibatkan sebanyak 189 negara anggota PBB yang konsen terhadap lingkungan.

Dipilihnya Bali sebagai tempat konferensi tersebut karena Bali dipandang memiliki konsep hidup untuk mencintai lingkungan, melalui “Tri Hita Karana”, hubungan harmonis dengan lingkungan, antarmanusia dan Tuhan.
Dengan gitar dan jimbe yang ditabuh rampak, Mike dan Bob menyanyikan Hukum Rimba, Negri Ngeri, Marsinah, dll. Marjinal cukup membetot perhatian hadirin.
“Baru kali ini kita main di acara pameran, di depan seniman,” ujar Bob seusai bermain musik.
Kemudia dia dan Mike bersama para seniman berjalan sejauh duaratus meter menuju tanah lapang yang dipeluk bukit-bukit kapur Jimbaran. Di sana, para seniman dan siswa-siswa dari sekolah-sekolah di Jimbaran, menanam ratusan bibit pohon damar.
Marjinal berkesempatan pula berkolaborasi dengan sekeha gong Banjar Ungasan-Jimbaran, yang memainkan gambelan Bali. Mike dan Bob menabuh jimbe bersahut-sahutan dengan suara kendang, kencreng dan gong. Suasana semakin hangat. Gerimis pun urung turun di bukit-bukit Jimbaran.
Di tempat yang lain, di Nusa Dua, para pemimpin dunia sedang mengadakan konfrensi. Pemanasan bumi (global warming), menjadi topik utama. “Ini momen kita menyuarakan kepada dunia, perlu ada sistem yang baru untuk menyelamatkan bumi dari emisi gas rumah kaca. Amerika harus mendengar jeritan umat manusia. Indonesia jangan sampai cuma ketiban malapetaka akibat nafsu
buta industri mereka,” kata Mike kepada para seniman.
Pelbagai bencana alam di Indonesia, menurut Mike, adalah akibat dari sistem yang yang mengedepankan ketamakan manusia. Pohon ditebang. Terumbu karang hancur. Tanah longsor. Banjir, dll.
“Gue ingat kampug kita, jadi langganan banjir,” celetuk Bob.
Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, para seniman berkesempatan berziarah di desa-desa yang tertelan lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Matahari bersinar sangar. Panas menyengat. Kubah sebuah mushola nampak menyembul. Di sudut lain nampak pucuk atap-atap rumah. “Di sana pabrik tempat Marsinah bekerja,” ujar seorang tukang ojek, telunjuknya mengarah pada atap seng yang sedikit menyembul di padang lumpur panas. Asap masih mengepul. Marjinal menyenandungkan Marsinah, sebuah ode untuk buruh perempuan yang mati memperjuangkan hak-hak buruh itu.
Tiba-tiba seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, yang mempunyai masa kanak-kanak di sebuah desa yang kini tertelan lumpur panas, spontan membuka busana. Mulutnya menggumamkan lata-kata, mungkin mantra. Ia ingin menggelar performance art. Tapi dengan sigap dicegah aparat yang membopongnya menjauhi lumpur panas. Asap lumpur masih mengepul. Sang seniman histeris. Meradang. Menerjang. Para seniman yang lain menenangkan.
Rombongan melanjutkan perjalanan.
Di Yogyakarta, Bob dan Mike berkolaborasi dengan pelukis Dipo Andi. Mereka menuangkan perjalanan ziarah ke lumpur panas Lapindo dalam sebuah lukisan. Bob melukis wujud tengkorak berdasi. Dipo Andi membuat sapuan bidang dan garis lalu membubuhkan tulisan BAH NERAKA. Mike menuliskan lirik lagu Luka Kita. Novelis Muhidin M. Dahlan tak ketinggalan menuliskan kalimat yang ia kutip dari Mahatma Gandhi:” Bumi adalah sorga/ yang rusak jadi neraka/ oleh orang-orang dungu hiruk-pikuk…
Di penghujung 2007, Marjinal pulang kampung, kembali ke markas di Setu Babakan, Jakarta. “Gue kangen nyokab,” kata Bob, yang merindukan bertemu ibunya. Sedangkan Mike menyiapkan acara mancing bersama warga di sebuah empang yang dikelola secara swadaya. “Mancing itu kebutuhan. Sambil merenung dan melatih kesabaran. Baru kepikiran… Marjinal udah jalan sebelas tahun…,” kata Mike sambil menghela nafasnya.
Sebelas tahun Marjinal berjalan. Ibarat seorang bocah yang lagi gesit-gesitnya, ingin mencoba ini dan itu dengan rasa ingin tahu nan besar. “Marjinal sebagai komunitas memang sebelas tahun jalan, tapi yang terlibat di sana kan udah bukan bocah lagi. Komunitas ini bukan ruang bermain bocah lagi, tapi jadi suatu jalan hidup,” tutur Mike.Menurut Mike, apa yang dicapai Marjinal hari ini adalah tidak lepas dari dukungan warga kampung Setu Babakan.
Marjinal telah merilis empat album: Ditindas atau Bangkit Melawan, Anty Military, Termarjinalkan dan Predator. Melalui lagu-lagu yang dikumandangkan empat album itu, Marjinal mulai dikenal publik, khususnya scene punk.
Sebagian besar publik mengetahui Marjinal hanya dari lagu-lagunya. Mereka gak tahu, personil Marjinal seperti apa. Publik baru tahu kemudian setelah Marjinal diundang manggung di beberapa gelaran musik (gigs) di beberapa daerah, sampai ke kampung-kampung di pojok paling pelosok Indonesia. Ketika bertemu player Marjinal, orang-orang makin suka karena mereka mudah diajak bersahabat.
Dalam setiap gigs, Marjinal selalu membuka work-shop cukilan kayu dan cetak sablon. Pada waktu tertentu kadangkala diisi diskusi yang serius. Atau sekadar bincang-bincang santai. Ternyata Marjinal jenaka pun bisa!
Awalnya, orang kalau melihat sosok Mike yang tinggi atletis dengan tattoo yang tergambar di pergelangan, leher hingga kepalanya, yang dilebati rambut gimbal, bikin orang ketar-ketir juga. Tapi begitu melihat seulas senyum dan vokalnya yang rada empuk bersahabat, orang-orang pun mendekat menjabat tangannya. Atau saling bertegur-sapa.
Sedangkan dengan Bob, walau sekujur tubuhnya dirajah dengan ornament tribal serta gambar pencakar langit plus Monas di betisnya… Bob langsung menyapa dan mendekat pada orang-orang yang rada canggung. Bob langsung mengajak bercanda-ria dan menyanyi bersama.
Publik pertamakali mengenal Marjinal, tentu saja, dari lagu-lagunya. Empat album yang telah dirilis beredar di lapak atau distro, bahkan dari tangan ke tangan, namun kini sudah dibajak pula dan beredar di kakilima di pelbagai pojok pelosok Indonesia. Selain itu, publik mengenal Marjinal dari desain cetakan sablon di kaos, yang merupakan bentuk aplikasi karya seni grafis cukilan kayu Marjinal. Kaos desain-desain Marjinal pun kini telah dibajak dan beredar di kaki lima di pelbagai pojok pelosok Indonesia.
“Sampai saat ini kita biarin karya kita dibajak. Hitung-hitung bagi-bagi rejekilah! Itu salah satu bentuk kemenangan komunitas punk, bias diterima secara luas,” ujar Mike sambil terkeh-kekeh.
lirik lagu-lagu Marjinal, menurut pengakuan sebagian besar kaum muda, sangat mewakili kenyataan hidup mereka yang termarjinalkan. Lirik-lirik lagu itu menggedor kesadaran mereka, agar melihat kenyataan lingkungan lalu bangkit menolong diri sendiri. Lagu-lagu itu memberi inspirasi agar kaum muda hidup mandiri.
“Marjinal itu purba banget,” kata seseorang pemuda dari Indramayu, yang enggan disebutkan namanya.
Lho, kok purba?
“Ya, sebagian besar publik pendengarnya tahu Marjinal cuma dari lagu-lagunya,” kata pemuda itu. Ia pun bersama beberapa temannya ketika liburan pergi ke markas Marjinal di Setu Babakan. “Kehidupan orang-orangnya sama persis kayak lagu-lagunya!” katanya.Yup! Publik mengenal Marjinal dari lagu serta karya seni grafis, cukilan kayu yang diaplikasikan dalam sablon kaos, emblem dan pin. Sebagian besar karya cukilan kayu itu adalah bentuk narasi senirupa yang bersumber dari lirik-lirik lagu Marjinal. Mereka menyadari, lagu dan visual art sebagai media yang sangat ampuh membangun kesadaran kaum muda.
“Kita gunakan ruang publik kota sebagai tempat pameran. Kita berkompetisi dengan media visual yang lain, seperti iklan dan program pemerintah. Poster cukilan kayu dan stensil kita gunakan buat media penyadaran agar kita tidak melulu konsumtif. Kita anti konsumerisme yang selalu diiklankan di ruang public. Makanya kita harus berani merebut ruang publik sebagai ruang media visual kita!,” ujar Bob yang seringkali menggelar karya komik, cukilan kayu dan stensil di beberapa stasiun kereta api.
.
Kita berada di tengah kultur visual abad 21. Revolusi teknologi informasi dan komunikasi telah menjelma dunia jadi medan kecamuk citra. Pada abad digital ini tiap detik dunia digempur oleh citra yang datang-pergi silih berganti dengan agresivitas dan intensitas tinggi. Invasi citra kini telah dan makin jauh menembus teritori realitas. Dengan kapasitasnya melesatkan imajinasi tanpa batas, citra mampu memanipulasi realitas, atau bahkan menggantinya dengan realitas rekaan yang lebih “real”, lebih meyakinkan, lebih otoritatif.
Tapal-tapal batas antara yang natural dan artificial, antara yang “sungguhan” dan “bohongan”, bukan saja semakin kabur, tapi juga tidak relevan lagi.
Menjadi penghuni pada zaman ini berarti hidup dalam sebuah kebudayaan didominasi gambar, simulasi visual, stereotype, ilusi, reproduksi, imitasi dan fantasi. Masyarakat pascamodernisme dewasa ini dihidupi dan menghidupi rezim budaya citra, dengan citra visual sebagai panglima.
Dari halaman koran dan majalah, reklame di pinggir jalan, televisi, VCD, DVD, handphone, internet dsb, citra visual membanjiri seluruh dunia hingga ke pojok paling [elosok sekali pun, mengepung setiap individu dengan semua kekuatan seduktifnya berkembang biak dengan subur, teramat subur, over provokatif. Menginvasi segala sector kehidupan dan akhirnya menenggelamkan seluruh tubuh masyarakat kontemporer: mengubahnya jadi “masyarakat tontonan” (society of spectacle), sebuah masyarakat yang menggantungkan eksistensinya pada tampilan, kosmetik efek atraktif –spektakuler. Inilah masyarakat dimana kemasan lebih bernilai ketimbang isi, impresi lebih penting ketimbang esensi, visualisasi lebih berguna daripada kontemplasi.

***
Punk sebagai sebuah gerakan subkultur di Inggris dan Amerika muncul dari kantong-kantong kehidupan perkotaan (urban), muncul dari masyarakat industrial. Punk di Indonesia adalah hasil sebuah transformasi budaya akibat dari globalisasi arus bawah. Sebermula punk digandrungi kelas menengah-atas kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta atau Bandung, sebagai bentuk snobisme anak muda perkotaan. Tapi semanjak akhir 1990-an, subkultur punk menjadi sebuah gerakan subkultur yang merasuk sampai desa, kampung atau dusun di pojok pelosok Indonesia.
Beberapa scene punk di kota-kota kabupaten di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, dan Kalimantansekarang secara berkala membuat gelaran musik (gigs), yang diikuti band-band punk dari desa-desa di sekitarnya. Sebagaian besar kaum muda itu hidup sebagai petani atau pedagang dengan latar budaya agraris yang kuat.
Secara tidak langsung, Marjinal memberi pengaruh terhadap tumbuhnya komunitas punk di Indonesia. Setidaknya, empat album Marjinal album musik punk rock awal yang liriknya menggunakan bahasa Indonesia. Marjinal juga menyuntik rasa percaya diri band-band lokal untuk menciptakan lagu sendiri dalam bahasa Indonesia, ketika band-band punk lokal berorientasi pada punk yang tumbuh di London atau New York.
Sepuluh tahun yang lalu,sulit membayangkan sebuah band punk menyanyikan lagu ciptaan sendiri yang berbahasa Indonesia. Marjinal membangun “rumah bahasa” dalam komunitas punk – bahasa Indonesia yang tidak mengalami birokratiasasi, bahasa Indonesia yang mengenali kembali rasa berbahasa, jauh dari slogan-slogan politik bahasa pemerintah yang memaksa warganya berbahasa Indonesia baik dan benar tetapi terasa garing, tanpa rasa. Sepuluh tahun yang lalu ketika band-band punk lokal masih berorientasi pada punk yang tumbuh di London atau New York.
Ketika Marjinal mencipytakan lagu berbahasa Indonesia dan menyanyikan di depan publik, mereka menuai cacian dan diremehkan. “Kok punk nyanyi lagu bahasa Indonesia,” kata Mike menirukan keluhan orang-orang ketika itu.
Scene punk sepuluh tahun yang lalu masih berkiblat pada punk di Barat. Mereka acapkali menyanyikan lagu-lagu Sex Pistols, Ramones, The Exploited, dll.
Ketika Marjinal menyanyikan lagu-lagu dengan tema kritik sosial, pun scene punk di Jakarta kaget-kagetan dan mencemooh, “Kok punk ngomongin politik!”
“Ketika itu sebagian besar band punk rock bicara kebebasan, yang fokusnya adalah hubungan lelaki dan perempuan, cinta-cintaan gitu lho. Kita menulis lagu kritik sosial. Atau lagu seperti Cinta Pembodohan yang mengkritik abis segala bentuk cinta-cintaan yang cemen itu!,” ujar Bob.
***
Sebelas tahun Marjinal berjalan melangkah tidak selalu ringan menganyun. Orang-orang datang dan pergi, hidup dan menghidupi komunitas ini. Marjinal selama sebelas tahun membangun “rumah bahasa” sekaligus menatanya, dengan nilai etos gerakan punk Do It Yourself (DIY), aktivisme politis di tingkat akar rumput yang memiliki cakupan luas dan terbuka dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Budaya DIY terutama mencuat pada 1990-an, di Inggris, ketika terjadi percampuran antara aksi protes (sebagai aksi politik langsung) dengan kegiatan pesta (aksi perayaan, festival). Budaya ini menyerukan gerakan counter culture atau underground di Amerika pada 1960-an, di mana politik dan pesta berbaur. Budaya DIY, di tangan Marjinal, menjadi ekonomi koperasi, pemenfaatan teknologi digital dan teknologi komunikasi untuk tujuan-tujuan masyarakat bebas, dan komitmen terhadap teknologi alternative. Mengembangkan sikap berdikari (berdiri di kaki sendiri), sikap independen, termasuk dalam hal memproduksi kebutuhan-kebutuhan estetis: musik fashion, rajah tubuh, aksesoris, buku dan komik.

Rabu, 28 November 2012

Marjinal - Cinta Pembodohan

Intro : bm f# g a
Dunia punya cerita : d a
cerita tentang cinta
: g d
cinta,cinta : d a
pembodohan : g
cinta : f#
pada stres dan gak sedikit yg gila : bm f# g a
mati mampus minum racun serangga
: bm f# g a
gantung diri di pohon jenggkol
: bm f# g a
nubrukin badan ke bis kota yg sedang mangkal
: bm f# g a
lompat melompat dari gedung bertingkat : bm f# g a
karna cinta,demi cinta
: bm f# g a
hey,kau kau kawan terlihat cemen : d g a (tp kitakan anak gaul lagi)
dengarnya pun lagu cengeng
: bm f# g a
membuat otak dan mental seperti kaleng rombeng
: bm f# g a
hati pun celeng celeng teng teng terenteng
: bm f# g a
nontonnye sinetron telenovela : bm f# g a
isinya hanya cinta
cinta cinta cinta teng teng
: bm f# g a
hey,kau kau kawan dan masih banyak cerita : d g a (dunia tak slebar daun kelor)
hey,kau kau kawan terlihat cemen : d g a (cinta bukan di balik kolor)
hey,kau kau kawan terlihat cemen : d g a (cinta itu pembodohan)
hanyalah retorika : bm f# g a
yg menggebu gebu berbuntut kepentingan
: bm f# g a
(mong ngomong cinta..) cinta rakyat jelata
: bm f# g a
(mong ngomong cinta..) knapa kau berkuasa
: bm f# g a
(mong ngomong cinta.,) cinta umat manusia
: bm f# g a
(mong ngomong cinta…) tapi engkau membunuhnya : bm f# g a
(mong ngomong cinta..) katanya anugrah : bm f# g a
(mong ngomong cinta..) kenapa ada yg luka
: bm f# g a
(mong ngomong cinta..) mengapa banyak yg mati : bm f# g a
(mong ngomong cinta..) knapa kau tidur dengannya
: bm f# g a
(itulah cinta,itulah cinta kata kuncinya…)
: bm a g
hey,kau kau kawan sadarlah
: d a g
dunia punya cerita : d a
cerita tentang cinta
: g d
cinta,cinta : d a
pembodohan : g
bagian ke 2
: f#
to be countinue

bersambung!!!

Marjinal - Masberto

Sinisnya.. raut wajah
penuh warna kata kata
yg mengisyaratkan bahwa mereka itu durjana
tak asing di telinga
bahkan sudah membudaya
bahwasana mereka kriminal atau pendosa
tak bisa dapat kerja
pacaran di puas maki calon mertua
karna banyannya yg penuh gambar dan berwarna
apakah tato yg bertindak dan bekerja (no,no,no)
apakah tato yg membunuh dan megang senjata
Ketika buruk sangka yg dibangun oleh media melalui berbagai berita yg miskin kata
Alangkah menyedihkan bila berpikir adanya bahwa tato itu kejahatan Oyeah! (tidak)
Ternyata mereka orang orang merdeka yg mengexpresikannya arti berkarya
Apakah tato yg bertindak dan bekerja (oh no)
ataukah tato yg membunuh dan mengang senjata
Marberto.4x,masyarakat masyarakat bertato (yo have to know)
Masberto.4x,bukan masyarakat berdasi yg pake klepto (yo have to know)
Masberto.4x,kami senang jadi masyarakat bertato (yo have to know)
Masberto4x,yg penting hatinya kaga bertato
yg penting hatinya
kagak bertato
Oaeaea,Oooaeo
Oaeaea,Ooo masberto
Masyarakat bertato bukan kriminal.4x
masyarakat bertato bukan kriminal
masyarakat bertato
Budayo kito

tatto

sumha the stiff (tatto17)
sumha-the-stiff-tatto2
sumha-the-stiff-tatto3
sumha-the-stiff-tatto6
sumha-the-stiff-tatto9
sumha-the-stiff-tatto12
sumha the stiff (tatto18)
sumha the stiff (tatto21)
sumha the stiff (tatto28)
sumha the stiff (tatto31)
sumha the stiff (tatto34)
sumha the stiff (tatto37)
sumha the stiff (tatto40)
sumha the stiff (tatto43)
sumha the stiff (tatto46)
sumha the stiff (tatto49)
sumha the stiff (tatto52)
sumha the stiff (tatto55)
sumha the stiff (tatto58)
sumha the stiff (tatto59)
sumha the stiff (tatto62)
sumha the stiff (tatto65)
sumha the stiff (tatto69)
sumha the stiff (tatto72)
sumha the stiff (tatto75)
sumha the stiff (tatto78)
sumha the stiff (tatto81)
sumha the stiff (tatto84)
sumha the stiff (tatto87)
sumha the stiff (tatto90)
sumha the stiff (tatto93)
sumha the stiff (tatto96)
sumha the stiff (tatto99)
sumha the stiff (tatto102)
sumha the stiff (tatto107)
sumha the stiff (tatto108)
sumha the stiff (tatto111)
sumha the stiff (tatto114)
sumha the stiff (tatto117)
sumha the stiff (tatto120)
sumha the stiff (tatto123)
sumha the stiff (tatto126)
sumha the stiff (tatto129)
sumha the stiff (tatto132)
sumha the stiff (tatto135)
sumha the stiff (tatto138)
sumha the stiff (tatto141)
sumha the stiff (tatto147)
sumha the stiff (tatto150)
sumha the stiff (tatto153)
sumha the stiff (tatto156)
sumha the stiff (tatto160)
sumha the stiff (tatto163)
sumha the stiff (tatto458)
sumha the stiff (tatto16)
sumha-the-stiff-tatto0
sumha-the-stiff-tatto4
sumha-the-stiff-tatto7
sumha-the-stiff-tatto10
sumha-the-stiff-tatto13
sumha the stiff (tatto19)
sumha the stiff (tatto22)
sumha the stiff (tatto24)
sumha the stiff (tatto26)
sumha the stiff (tatto29)
sumha the stiff (tatto32)
sumha the stiff (tatto35)
sumha the stiff (tatto38)
sumha the stiff (tatto41)
sumha the stiff (tatto44)
sumha the stiff (tatto47)
sumha the stiff (tatto50)
sumha the stiff (tatto53)
sumha the stiff (tatto56)
sumha the stiff (tatto60)
sumha the stiff (tatto63)
sumha the stiff (tatto66)
sumha the stiff (tatto70)
sumha the stiff (tatto73)
sumha the stiff (tatto76)
sumha the stiff (tatto79)
sumha the stiff (tatto82)
sumha the stiff (tatto85)
sumha the stiff (tatto88)
sumha the stiff (tatto91)
sumha the stiff (tatto94)
sumha the stiff (tatto98)
sumha the stiff (tatto100)
sumha the stiff (tatto103)
sumha the stiff (tatto106)
sumha the stiff (tatto109)
sumha the stiff (tatto112)
sumha the stiff (tatto115)
sumha the stiff (tatto118)
sumha the stiff (tatto121)
sumha the stiff (tatto124)
sumha the stiff (tatto127)
sumha the stiff (tatto130)
sumha the stiff (tatto133)
sumha the stiff (tatto136)
sumha the stiff (tatto139)
sumha the stiff (tatto142)
sumha the stiff (tatto145)
sumha the stiff (tatto148)
sumha the stiff (tatto151)
sumha the stiff (tatto154)
sumha the stiff (tatto157)
sumha the stiff (tatto161)
sumha the stiff (tatto164)
sumha the stiff (tatto)
sumha the stiff (tatto15)
sumha-the-stiff-tatto1
sumha-the-stiff-tatto5
sumha-the-stiff-tatto8
sumha-the-stiff-tatto11
sumha-the-stiff-tatto14
sumha the stiff (tatto20)
sumha the stiff (tatto23)
sumha the stiff (tatto25)
sumha the stiff (tatto27)
sumha the stiff (tatto30)
sumha the stiff (tatto33)
sumha the stiff (tatto36)
sumha the stiff (tatto39)
sumha the stiff (tatto42)
sumha the stiff (tatto45)
sumha the stiff (tatto48)
sumha the stiff (tatto51)
sumha the stiff (tatto54)
sumha the stiff (tatto57)
sumha the stiff (tatto61)
sumha the stiff (tatto64)
sumha the stiff (tatto67)
sumha the stiff (tatto71)
sumha the stiff (tatto74)
sumha the stiff (tatto77)
sumha the stiff (tatto80)
sumha the stiff (tatto83)
sumha the stiff (tatto86)
sumha the stiff (tatto89)
sumha the stiff (tatto92)
sumha the stiff (tatto95)
sumha the stiff (tatto97)
sumha the stiff (tatto101)
sumha the stiff (tatto104)
sumha the stiff (tatto105)
sumha the stiff (tatto110)
sumha the stiff (tatto113)
sumha the stiff (tatto116)
sumha the stiff (tatto119)
sumha the stiff (tatto122)
sumha the stiff (tatto125)
sumha the stiff (tatto128)
sumha the stiff (tatto131)
sumha the stiff (tatto134)
sumha the stiff (tatto137)
sumha the stiff (tatto140)
sumha the stiff (tatto143)
sumha the stiff (tatto146)
sumha the stiff (tatto149)
sumha the stiff (tatto152)
sumha the stiff (tatto155)
sumha the stiff (tatto159)
sumha the stiff (tatto162)


















sumha the stiff (tatto31)

sumha the stiff (tatto62)




sumha the stiff (tatto111)
Koleksi Gambar Tatto Paling Keren


Koleksi Gambar Tatto Paling Keren

Koleksi Gambar Tatto Paling Keren

Koleksi Gambar Tatto Paling Keren

Koleksi Gambar Tatto Paling Keren

Koleksi Gambar Tatto Paling Keren

Koleksi Gambar Tatto Paling Keren

Koleksi Gambar Tatto Paling Keren

Koleksi Gambar Tatto Paling Keren

Koleksi Gambar Tatto Paling Keren

Koleksi Gambar Tatto Paling Keren

Koleksi Gambar Tatto Paling Keren